Oleh : Hery Sunaryo, SH.,MH.
Pemerhati Kebijakan Publik Kota Balikpapan_*
BALIKPAPAN,suarakalima.com
Di balik janji-janji besar dan rencana pembangunan, ada kenyataan pahit yang dirasakan warga kota Balikpapan setiap hari. Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) terus berbicara tentang solusi jangka panjang, tetapi perkataan itu tidak sesuai dengan janji politik walikota pada waktu kampanye yang tertuang dalam dokumen RPJMD, yang berjanji akan menyelesaikan masalah pelayanan dan kualitas PDAM, Alih-alih mewujudkan air yang berkualitas malah hal sebaliknya terjadi kualitas air semakin dikeluhkan warga kota karena keruh dan berbau. Angka 1.460 liter per detik yang disebut-sebut sebagai kapasitas produksi gagal menjawab pertanyaan paling mendasar bagi setiap rumah tangga diBalikpapan, mengapa keran air kami tidak mengalir air,dan tetap kering?
Janji bahwa air akan tersedia di tahun 2027 atau 2028 bukanlah solusi. Hal Ini seolah mengalihkan perhatian dari masalah yang ada saat sekarang. Mengapa warga harus menunggu bertahun-tahun untuk Embung Aji Raden dan SPAM Sepaku–Semoi, sementara 30% air bersih hilang begitu saja, terbuang sia-sia karena kebocoran? Bukankah setiap tetes air yang hilang membuktikan buruknya kinerja PDAM Saat ini.
Selain kuantitas, kualitas air juga menjadi masalah yang seolah sengaja diabaikan. Pernyataan PTMB hanya fokus pada volume, seolah air yang keruh, berbau, dan berlumpur adalah hal yang biasa. Warga dipaksa menanggung beban ganda, karena kekurangan air dan kualitasnya yang buruk. Banyak keluarga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli air kemasan atau memasang filter, karena air yang seharusnya menjadi hak mereka justru membuat khawatir akan kesehatan.
Ini adalah ironi PTMB menjanjikan masa depan yang penuh air, tetapi tidak peduli dengan penderitaan warga kota Balikpapan saat ini. Hal ini menunjukkan kegagalan kepemimpinan Dr. Saharuddin sebagai Direktur Utama PTMB. Ia gagal melihat masalah secara menyeluruh. Bukannya memperbaiki sistem yang sudah ada, fokusnya malah pada proyek-proyek besar yang belum pasti. Ini adalah kegagalan fatal dalam menentukan mana yang harus didahulukan.
Di bawah kepemimpinannya, manajemen operasional tidak menunjukkan perbaikan. Tingkat NRW 30% adalah bukti nyata ketidakmampuan mengelola perusahaan dengan baik.Yang paling merusak adalah kegagalannya dalam memenuhi standar pelayanan dasar dan membangun kepercayaan masyarakat, dengan terus-menerus memberikan janji tanpa hasil, ia menciptakan jurang yang lebar antara harapan dan kenyataan. Warga merasa diabaikan, dan kepercayaan pada PTMB semakin hilang.
Secara keseluruhan, di balik optimisme yang ada, kepemimpinan Dr. Saharuddin telah gagal dalam empat hal utama yaitu, pandangan yang seimbang solusi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, manajemen yang efisien, standar kualitas yang baik, dan kepercayaan masyarakat. Kegagalan ini membuat krisis air di Balikpapan bukan hanya sekedar masalah teknis, tetapi juga menunjukan ada masalah pada kepemimpinan yang kurang serius dan mumpuni dalam melakukan perbaikan PDAM diKota Balikpapan.





